6 Tips Menghindari Penyakit Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal bisa terjadi dari kebiasaan sehari-hari yang sangat mungkin tidak Anda sadari, seperti dari asupan makanan Anda sampai cara Anda buang air kecil. Gejala dari penyakit ini sendiri lebih mengarah ke infeksi saluran kemih, seperti nyeri saat mengeluarkan urine serta warna urine keruh dengan bau menyengat. Ditambah lagi, penderita penyakit batu ginjal juga biasa mengalami rasa sakit di bagian pinggang, perut samping, juga punggung. 

Anda tidak perlu terlalu takut ketika terdiagnosis penyakit ini. Banyak cara untuk memulihkan kondisi Anda. Jika ukuran batu ginjal relatif kecil, dokter biasanya hanya akan meminta Anda mengonsumsi obat oral. Namun, jika ukuran batu ginjal dirasa sudah besar dan sulit ditangani, tindakan pembedahan bisa saja dilakukan. 

Karena itu, sebaiknya perbaiki kebiasaan sehari-hari Anda untuk mencegah terbentuknya endapan yang mengeras dan menjadi penyakit di area ginjal maupun saluran kemih Anda. Beberapa tips ini layak Anda coba dan hasilnya akan sangat efektif untuk menghindari Anda dari penyakit yang satu ini. 

Minum Cukup Tiap Hari 

Tetap terhidrasi adalah kunci untuk mencegah pembentukan endapan yang nantinya menjadi penyakit batu ginjal. Ini merupakan tindakan pencegahan terbaik yang bisa Anda lakukan. Soalnya saat Anda mengalami dehidrasi, urine Anda menjadi lebih pekat sehingga membuat tubuh Anda lebih sulit melarutkan mineral. Inilah yang akhirnya memicu terjadinya endapan yang lama-kelamaan mengeras menjadi batu ginjal. Supaya tidak terdehidrasi dan urine tetap dalam batas cair yang aman, biasakan minum 2,5—3 liter air per hari. Jika Anda banyak berkeringat, konsumsi air lebih banyak sangat disarankan. 

Kurangi Pemakaian Garam 

Makanan-makanan tinggi garam ataup pemakaian garam yang banyak dalam kajanan Anda bisa meningkatkan risiko munculnya penyakit batu ginjal kalsium. Menurut Urology Care Foundation, garam yang terlalu banyak ini akan berpengaruh pada tidak maksimalnya penyerapan kalsium oleh urine sehingga kembali ke dalam. Yang pada akhirnya, kalsium tersebut dapat mengendap di area ginjal maupun saluran kemih hingga mengeras menjadi penyakit batu ginjal. World Health Organizatioan sendiri merekomendasikan, pemakaian garam harian sebaiknya hanya 2.400 miligram per hari atau setara dengan satu sendok teh. 

Takar Pengonsumsian Kafein 

Kafein adalah hal lain yang perlu Anda batasi untuk mencegah penyakit batu ginjal. Soalnya, kafein yang terlalu banyak dapat mempercepat metabolisme dan menyebabkan dehidrasi. Kondisi inilah yang akhirnya membuat urine keruh dan mineral lebih mudah mengendap di tubuh. Namun, bukan berarti Anda sama sekali tidak boleh mengonsumsi kafein. Anda hanya perlu menakar pengonsumsian kafein untuk tidak melebihi 400 miligram per hari. Ingatlah pula bahwa kafein bukan hanya terdapat di kopi, namun juga ada di berbagai makanan yang Anda santap. 

Minimalkan Makanan Olahan 

Lebih baik Anda mengonsumsi makanan segar daripada makanan olahan jika ingin tubuh lebih sehat. Meminimalkan makanan olahan dalam asupan harian Anda juga dapat mencegah Anda terkena penyakit batu ginjal. Soalnya, makanan olahan dalam bentuk kemasan dan kalengan cenderung memiliki kadar garam dan gula yang tinggi sehingga rentan menimbulkan pengendapan mineral yang berujung pada pembentukan batu ginjal. 

Batasi Asupan Protein Hewani 

Makanan tinggi protein hewani bersifat asam dan dapat meningkatkan asam urine. Asam urine yang tinggi dapat menyebabkan asam urat dan batu ginjal berjenis kalsium oksalat. Jadi jika ingin mengurangi risiko terkena batu ginjal, batasi pula asupan protein hewani Anda mulai sekarang. Anda tetap boleh mengonsumsi daging sapi, daging ayam, daging unggas, maupun telur; namun dalam jumlah terbatas. 

Jangan Menahan Buang Air Kecil 

Menahan buang air kecil mungkin sering Anda lakukan, apalagi jika sedang dalam perjalanan. Namun, ini sungguh tidak baik bagi ginjal maupun saluran kemih Anda. Menahan buang air kecil akan membuat mineral yang seharusnya lewat urine tertahan dan mengendap di saluran kemih. Lama-kelamaan, pengendapan minerap tersebut akan mengeras dan bertambah besar menjadi penyakit batu ginjal yang mesti segera ditangani. 

*** 

Penyakit batu ginjal dapat dicegah dengan pola hidup yang lebih sehat dan alami. Kalaupun Anda menalami gejala-gejala yang mengarah ke penyakit ini, jangan segan berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang diperlukan guna mencegah komplikasi dan penurunan fungsi ginjal. 

Kenali Bedanya Kadar Kolesterol Normal Pria dan Wanita

Kolesterol adalah senyawa lemak yang diproduksi oleh sel-sel dalam tubuh manusia dan dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh dengan jumlah tertentu. Kadar kolesterol ini harus dijaga tetap normal baik kadar kolesterol normal pria dan wanita sebab kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan resiko penyakit jantung, stroke, dan batu empedu.

Kolesterol normal agar tidak terkena penyakit

Terdiri dari dua jenis kolesterol, yaitu low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik, kadar kolesterol tiap orang berbeda-beda. Biasanya kadar kolesterol pria lebih tinggi dibandingkan wanita. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui berapa kadar kolesterol normal pria dan wanita. 

Berikut kadar kolesterol normal pria dan wanita berdasarkan jenis-jenis kolesterol yang ada di dalam darah.

  1. High-Density Lipoprotein (HDL)

High-Density Lipoprotein atau kolesterol baik adalah jenis kolesterol yang berfungsi untuk membersihkan kolesterol lain, seperti LDL di darah yang berbahaya bagi tubuh dengan cara membawanya kembali ke hati untuk dipecah dan dibuang dari tubuh. 

Kadar HDL ini harus lebih tinggi dibandingkan kadar LDL untuk mencegah timbulnya 

penyakit, seperti penyakit jantung dan stroke. Seperti yang dilansir dari Medlineplus Kadar kolesterol normal pria usia 20 tahun keatas sebaiknya berada diantara 125 – 200 mg/dL dengan kadar HDL 40 mg/dL atau lebih untuk mengurangi resiko penyakit jantung. 

Sementara kadar kolesterol normal wanita usia 20 tahun keatas sebaiknya juga berada diantara 125 – 200 mg/dL dengan kadar HDL 50 mg/dL atau lebih. Kadar HDL pada wanita cenderung lebih tinggi daripada pria. Hal ini disebabkan wanita memiliki hormon estrogen yang dapat membantu menjaga kadar HDL agar lebih tinggi. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, kadar HDL pada wanita akan berkurang, terutama saat wanita sudah memasuki fase menopause dimana hormon estrogen pun mulai berkurang secara drastis. 

  1. Low-Density Lipoprotein (LDL)

Kebalikan dari HDL, kadar Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat sebaiknya berada di tingkat yang rendah. Kadar LDL yang tinggi justru meningkatkan resiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit lainnya. 

Kadar kolesterol normal pria dan wanita usia diatas 20 tahun sebaiknya memiliki kadar LDL kurang dari 100 mg/dL. Dilansir dari Health Line, kadar LDL 130 – 159 mg/dL sudah termasuk ambang batas tinggi. Sementara, apabila kadar LDL mencapai 160 – 190 mg/dL sudah termasuk kategori level tinggi.

  1. Trigliserida

Trigliserida adalah salah satu jenis lemak yang ada di dalam darah. Sama seperti kolesterol, kadar trigliserida yang tinggi meningkatkan resiko penyakit jantung, stroke hingga diabetes. Tingkat normal gliserida adalah kurang dari 150 mg/dL, 150-199 mg/dL sudah termasuk ambang batas tinggi, dan lebih dari 200 mg/dL termasuk sangat tinggi yang mana artinya Anda sudah memerlukan pengobatan untuk menurunkan kadar gliserida ini.

Jadi, tidak hanya memperhatikan kadar HDL dan LDL saja pada saat melakukan pemeriksaan kadar kolesterol normal pria dan wanita, namun juga perhatikan kadar trigliserida dalam tubuh.

  1. Kolesterol Total

Biasanya untuk mengetahui kadar kolesterol normal pria dan wanita, dilihat dari jumlah kolesterol total yang merupakan gabungan dari jumlah HDL, LDL dan trigliserida dalam setiap desiliter darah. Jika jumlah kolesterol total 200 mg/dL atau  lebih dan kadar HDL kurang dari 40 mg/dL, sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan kolesterol lengkap dengan kadar LDL dan trigliserida.

Inilah Penyebab Sakit Perut Sebelah Kiri

Ginjal merupakan salah satu organ tubuh di dalam perut yang perlu dijaga. Organ tubuh yang bermasalah dapat menimbulkan risiko seperti sakit perut. Sakit perut merupakan salah satu gejala yang sering dialami manusia. Sakit perut bisa terjadi di bagian perut manapun, termasuk sebelah kiri bawah. Penyebab sakit perut sebelah kiri beragam, salah satunya termasuk hernia.

Penyebab sakit perut kiri bawah saat haid

Gejala yang dialami penderita bervariasi, mungkin bisa terjadi dalam waktu yang singkat (beberapa jam) atau beberapa hari, bahkan bisa lebih lama. Pada dasarnya, sakit perut tidak perlu diobati, karena kondisi tersebut akan sembuh dengan sendiri. Namun, jika kondisi yang dialami penderita serius, mereka perlu bertemu dengan dokter.

Apa Saja Gejala yang Timbul?

Sakit perut sebelah kiri bisa terjadi pada siapapun. Berikut adalah gejala yang bisa dialami penderita:

  • Diare atau sembelit.
  • Perut kembung.
  • Sendawa.
  • Benjolan di perut.
  • Warna urin berubah.
  • Nyeri ketika melakukan kontak seksual dengan pasangan.
  • Rasa sakit karena usus bergerak.
  • Siklus haid yang terjadi secara tidak teratur.
  • Periode menstruasi yang lebih berat.
  • Pendarahan pada vagina.

Apa Saja Penyebabnya?

Berikut adalah penyebab sakit perut sebelah kiri yang perlu diwaspadai:

  1. Diverkulitis

Diverkulitis merupakan penyakit yang menimbulkan peradangan pada usus besar. Diverkulitis dapat menimbulkan gejala berupa demam, mual, dan muntah.

  1. Hernia

Hernia merupakan kondisi yang menimbulkan benjolan di bagian perut manapun, termasuk bagian kiri bawah. Hal tersebut terjadi karena organ tubuh lain menekan keluar ke dinding perut.

  1. Nyeri haid

Nyeri yang dialami wanita tidak hanya terjadi ketika berhubungan seksual dengan pasangan, namun juga bisa terjadi ketika mereka mengalami menstruasi awal. Kondisi tersebut biasanya tidak menyebabkan gejala yang parah bagi tubuh mereka.

  1. Maag

Maag merupakan faktor lain yang dapat menimbulkan sakit perut. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala berupa kembung dan rasa panas di bagian perut.

  1. Gas

Gas bisa terjadi di perut karena udara secara tidak sengaja tertelan dan tersangkut di dalam perut. Selain itu, gas dapat menimbulkan gejala nyeri di perut.

  1. Konstipasi

Konstipasi merupakan kondisi yang timbul karena disebabkan oleh berbagai penyakit seperti sindrom iritasi usus. Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk buang air besar.

  1. Batu ginjal

Faktor lain yang dapat menimbulkan sakit perut adalah batu ginjal. Kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah pada sistem kemih. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat menyebabkan nyeri dari bagian tubuh atas hingga bawah.

Batu ginjal tidak hanya menyebabkan gejala sakit perut di bagian kiri, namun juga dapat menyebabkan gejala lain seperti pendarahan pada urine.

Jika Anda Mengalami Kondisi Yang Serius Pada Perut Anda

Jika Anda mengalami kondisi yang serius pada perut Anda, Anda sebaiknya hubungi dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda bisa mempersiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda tanyakan ke dokter.
  • Daftar gejala yang timbul.
  • Daftar riwayat medis dan obat yang digunakan (jika Anda memilikinya).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter perlu mengetahui kondisi Anda dengan mengajukan pertanyaan seperti:

  • Kapan gejala yang Anda alami terjadi?
  • Gejala apa saja yang Anda alami?
  • Berapa lama kondisi tersebut terjadi?

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter akan melakukan diagnosis seperti pemeriksaan fisik. Setelah melakukan diagnosis, dokter dapat memberikan opsi di bawah untuk mengobati sakit perut sebelah kiri:

  • Menggunakan obat

Obat antibiotik merupakan salah satu obat yang direkomendasikan dokter untuk mengatasi kondisi tersebut.

  • Operasi

Anda perlu menjalani operasi jika Anda mengalami kondisi yang serius seperti batu ginjal.

Kesimpulan

Penyebab sakit perut sebelah kiri beragam dan perlu diwaspadai. Gejala sakit perut bisa ringan atau berat. Jika Anda mengalami kondisi yang serius pada perut, Anda sebaiknya hubungi dokter. Tergantung pada seberapa parah kondisinya, Anda diminta untuk menggunakan obat atau menjalani operasi.